SANGATTA - Badan Pertanahan Nasional (BPN) tahun ini meningkatkan kinerja mereka. Menurut Kepala BPN Kutim Murad Abdullah, tahun ini BPN menargetkan akan mengukur 25 ribu bidang tanah. Dari target pengukuran ini, 15 ribu bidang akan disertifikatkan. Sedang sisanya menunggu permintaan pemilik lahan.

Menurutnya, jumlah ini meningkat dari jumlah tahun lalu yang hanya 20 ribu dan 10 ribu sertifikat. Dengan begitu banyaknya target pengukuran, Murad mengakui tidak menargetkan berapa bidang lahan yang diusulkan dari tiap desa atau kecamatan dari 74 desa di mana akan dilakukan pengukuran.

“Jadi pengukuran akan dilakukan di 74 desa. Berapa diusulkan dari tiap desa, kami tidak batasi,” ucap Murad.
Dengan pengukuran yang dilakukan secara masif selama beberapa tahun, diakuinya sudah ada 15 desa yang telah diukur secara total. Meskipun demikian, belum semua lahan yang telah diukur di desa-desa itu telah keluar sertifikatnya. Karena pemberian sertifikat itu tergantung permohonan yang masuk BPN.

“Kalaupun telah diukur belum semua ada sertifikatnya. Namun kalau sudah diukur, itu akan gampang dilakukan sertifikasi nantinya. Meskipun masih tetap diukur ulang, untuk mencocokkan lokasi pengukuran untuk memastikan patok tidak ada perubahan,” jelasnya. Jika ada perubahan, tentu disesuaikan dengan pengukuran yang baru, sebelum dilakukan pembuatan sertifikat.
Murad mengatakan, pemberian sertifikat masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Masyarakat tidak ada dipungut biaya. Namun dalam pembuatan sertifikat itu, harus tetap memenuhi syarat. Semua dokumen termasuk batas-batas lahan harus jelas. “Seperti tahun lalu, sertifikat itu gratis,” katanya. (jn/upi/kpg/rdh)