Belum genap sebulan, Endang (40) dan keluarga kembali menginjakkan kaki di kantor kelurahan Gunung Elai. Bukan untuk mengurus keperluan administrasi, melainkan mengungsi, akibat kediamannya lagi-lagi terendam banjir. Endang bersama suami dan dua orang anaknya mulai mengungsi sejak Selasa (10/5/2022) pagi. Warga RT 14, Gunung Elai ini sementara ditempatkan di ruang perpustakaan kelurahan. Tak banyak barang yang diboyong. Hanya pakaian di badan dan keperluan sang anak.

Kepada redaksi bontangpost.id, Endang mengatakan terpaksa memilih mengungsi, karena rumahnya yang terbilang rendah ketimbang rumah warga lainnya. Terakhir, jelang Idulfitri kemarin, ketinggian banjir yang merendam rumahnya di Jalan Brokoli, mencapai selutut orang dewasa. “Jadi pas air sudah masuk rumah, kami bereskan barang, terus ngungsi kayak sekarang ini,” ujarnya.

Beberapa perabotan rumah ikut rusak akibat banjir. Utamanya lemari pakaian. Banjir seperti ini, sudah dirasakan Endang bersama keluarga kecilnya sejak 2019 lalu, kala itu banjir terparah merendam Kota Taman. “Mudah-mudahan ada solusi biar tidak kebanjiran lagi, kami ada niatan untuk meninggikan rumah juga kalau ada rejeki,” katanya.

Lurah Gunung Elai Sulistyo menyebut, pihaknya telah membuka posko banjir. Kelurahan juga menyiapkan ruang perpustakaan dan ruang rapat, sebagai tempat pengungsian sementara bagi warga. “Setiap banjir kami langsung buka posko,” katanya. Adapun 8 RT di Kelurahan Gunung Elai yang terdampak banjir mencakup RT 13, 14, 18, 19, 20, 43, 44, dan RT 45. Namun, saat ini yang memilih mengungsi baru satu kepala keluarga, sementara warga lainnya memilih bertahan di kediaman masing-masing. (*)