Sejumlah ruangan terendam. Mulai perpustakaan hingga ruang kelas. Satu sekolah beralih ke daring, satu lainnya memilih kerja bakti membersihkan sekolah.

 

BONTANG–Musibah banjir juga berdampak di sektor pendidikan. Tercatat dua sekolah negeri tidak bisa melangsungkan pembelajaran tatap muka, Selasa (10/5) lalu. Kepala SD 010 Bontang Utara Nurully Kesuma Ningrum mengatakan, pembelajaran pada hari tersebut terpaksa dialihkan menggunakan skema daring.

Dia menjelaskan, sejak subuh luapan air sungai sudah menggenangi halaman sekolah. Kondisi ini diperparah dengan tertutupnya sejumlah akses menuju satuan pendidikan ini. Pihaknya langsung cekatan membagikan informasi kepada paguyuban kelas untuk meniadakan sementara pembelajaran tatap muka.

“Langsung inisiatif saat itu karena sudah tidak memungkinkan menuju sekolah,” kata Rully.

Bahkan, satu ruangan kelas yakni 5B juga terendam. Dengan ketinggian semata kaki. Sementara itu, ruangan kelas lain tidak terdampak lantaran konstruksinya lebih tinggi. Pasca-banjir, Rabu (11/5), pihaknya langsung menginstruksikan kerja bakti bagi pelajar di kelas tersebut. Selesainya ruangan kelas dibersihkan siswa-siswi langsung mendapatkan pembelajaran dari guru.

“Lapangan sekolah kami memang becek. Murid kami arahkan melewati teras kelas yang lebih tinggi,” ucapnya.

Ia menuturkan, pembuatan turap di samping sekolah sedikit membantu. Sebelum infrastruktur itu dibangun dua tahun lalu, air selalu masuk ke seluruh ruangan kelas yang berada di lantai dasar. Sebanyak 442 siswa menempuh pendidikan di sekolah yang berlokasi di Jalan Brokoli, Gunung Elai, Bontang, ini. Terbagi dalam 16 rombongan belajar. Sekolah pun membagi pembelajaran menjadi dua sesi.

Kondisi serupa juga terjadi di SMP 4. Kepala SMP 4 Dorta Situmeang mengatakan, ketinggian mencapai 60 cm dari lantai kelas. Sejumlah ruangan terendam. Meliputi ruang perpustakaan, tata usaha, ruang kepala sekolah, bimbingan konseling, UKS, musala, kantin, kelas 7A, kelas 9A, dan kelas 9B.

“Jadi kemarin (dua hari lalu) tidak ada pembelajaran baik tatap muka maupun daring. Karena sebagian guru dan siswa ikut membantu membersihkan ruangan. Akses menuju sekolah juga tertutup,” tuturnya.

Pada Rabu (11/5), pembelajaran sudah normal kembali. Tak hanya kali ini, pada 25 April, bangunan pagar sekolah juga ambrol karena banjir. Kejadian ini membuat dampak banjir kemarin tidak separah lalu. Sebab, laju air tidak tertahan lagi. Meski demikian, pihak sekolah telah bersurat ke Disdikbud untuk segera dibuatkan kembali pagar beton. Mengingat aspek keamanan sangat rawan jika dibiarkan dalam tempo lama.

“Rencana perbaikan belum tahu. Komite sekolah sedang berusaha. Nanti kalau dibangun pagar kami minta agar ada lubang untuk keluar air,” sebutnya.

Kerugian akibat musibah ini sekitar 30 meja guru yang terbuat dari bahan serbuk kayu mengembang. Namun masih bisa dipakai sementara waktu. SMP 4 terdiri dari 548 siswa yang terbagi dalam 16 rombel. (ak/dwi/k8)