Rencana penghapusan minyak goreng curah karena dianggap kurang higienis bukan isu baru bagi sebagian pedagang. Khususnya pedagang Pasar Taman Rawa Indah.

 

BONTANG - Bahar, salah seorang pedagang minyak goreng curah mengatakan, penghapusan minyak goreng curah sudah diwacanakan sejak lama. Namun, hingga saat ini wacana tersebut belum terealisasi.

"Sudah lama saya dengar itu. Nyatanya sampai sekarang enggak kejadian. Malah info yang baru saya dengar 31 Juni ini pemerintah sudah menerapkan larangan jual minyak curah," ujarnya, Minggu (19/6).

Bahar menyebut, minyak goreng curah lebih diminati pembeli karena harganya lebih ekonomis dan tidak mudah menyerap ke masakan. Meski begitu, ia tidak keberatan bila wacana tersebut diterapkan.

"Kalau saya ikut saja apa kata pemerintah. Asalkan diberi solusi. Misalnya saja penyetaraan minyak goreng kemasan dengan minyak goreng curah," akunya.

Di tokonya, satu liter minyak goreng curah dihargai Rp 10 ribu sedangkan ukuran 1,5 liter dikenai Rp 25 ribu. Sementara minyak goreng kemasan ukuran 1 liter dijual dengan harga Rp 25 ribu dan ukuran 1,5 liter seharga Rp 47 ribu.

Berbeda dengan Bahar, pedagang minyak goreng curah lainnya, Sukmawati mengaku akan tetap berjualan minyak goreng curah meski dilarang. Hal itu ia lakukan karena peminat minyak goreng curah lebih banyak ketimbang minyak goreng kemasan.

"Saya tetap jual. Mau bagaimana pembeli banyak yang beli minyak goreng curah. Toh, itu bukan subsidi juga," ucap Sukmawati.

Menanggapi itu, Kepala Bidang Perdagangan Disperindagkop Bontang Nurhidayah tidak menampik informasi tersebut. Namun, pihaknya belum bisa bertindak lebih lanjut. Lantaran belum ada instruksi resmi dari pemerintah pusat.

"Informasi yang diterima pedagang kalau bulan ini sudah diterapkan itu tidak benar. Surat edaran resminya saja kami belum terima. Toh pun diterapkan itu secara bertahap," jelasnya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, pemerintah akan menghilangkan peredaran minyak goreng curah secara bertahap. Alasannya karena minyak goreng curah dinilai kurang baik dikonsumsi.

“Kami minta secara bertahap tidak ada lagi minyak curah. Jadi, sekarang kemasan semua, karena minyak goreng curah itu kurang higienis,” kata Menko Luhut.

Dia menyebut, pemerintah tengah mendorong pengusaha untuk menyiapkan minyak goreng kemasan dengan harga tetap. “Jadi, kita minta nanti secara bertahap tidak ada lagi (minyak goreng) curah. Jadi, sekarang kemasan semua. Itu yang sedang kita kerjakan dan banyak pengusaha itu akan melakukan ke sana dengan harga tetap,” jelasnya. (lb/kpg/kri/k16)